Definisi, Penyebab, Gejala dan Pengobatan Ketoasidosis Diabetik

Definisi, Penyebab, Gejala dan Pengobatan Ketoasidosis Diabetik - Ketoasidosis diabetik  ( KAD ) merupakan salah satu komplikasi Dm akibat defisiensi ( absolut maupun relatif ) hormon insulin yang tidak dikenal dan bila tidakn mendapat pengobatan segera akan menyebabkan kematian.

KAD adalah suatu keadaan dimana sel tubuh tidak dapat menggunakan glukosa. Gejala dan tanda klinis KAD dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu akibat hiperglikemia dan ketoasidosis.

Walaupun sel tubuh tidak dapat menggunakan glukosa, sistem homestatis tubuh terus teraktivasi untuk memproduksi glukosa dalam jumlah banyak sehingga terjadi hiperglikemia. Selain itu bahan bakar alternatif ( asam keto dan asam lemak bebas ) diproduksi secara berlebihan. Meskipun sudah tersedia bahan bakar tersebut, sel-sel tubuh masih tetap lapar dan terus memesan glukosa. Hanya insulin yang dapat menginduksi transpor glukosa ke dalam sel, memberi sinyal untuk proses perubahan glukosa menjadi glikogen, menghambat lipolisis pada sel lemak ( asam lemak bebas ), menghambat glukoneogenesis, pada sel hati,  dan mendorong proses oksidasi melalui siklus Krebs di mitokondria sel untuk menghasilkan ATP yang merupakan sumber energi utama sel.

Defisiensi insulin yang menyebabkan ketoasidosis pada manusia ternyata bersifat relatif, karena pada waktu bersamaan juga terjadi pernambahan hormon stres yang kerjanya berlawanan dengan insulin. Glukagon, katekolamin, kortisol, dan somatostatin masing-masing naik kadarnya menjadi 450%, 760%, dan 250% dibandingkan dengan kadar normal.

Manifestasi Klinis

Tujuh puluh sampai sembilan puluh persen pasien KAD telah diketahui menderita DM sebelumnya. Sesuai dengan patofisiologi KAD, akan dijumpai pasien dalam keadaan ketoasidosis dengan pernapasan cepat dan dalam ( kussmaul ), dehidrasi ( turgor kulit berkurang, lidah dan bibir kering ), kadang-kadang disertai hipivolemia sampai syok.

Keluhan poliuria dan polidipsia seringkali mendahului KAD, serta didapatkan riwayat berhenti menyuntik insulin, demam, atau infeksi. Muntah-muntah merupakan gejala yang sering dijumpai. Pada KAD anak, sering dijumpai gejala muntah-muntah yang bersifat masif. Dapat pula dijumpai nyeri perut yang menonjol dalam hal ini dapat berhubungan dengan gastroparesis-dilatasi lambung.

Derajat kesadaran pasien bervariasi, mulai dari kompos mentis sampai koma. Bau aseton dari hawa napas tidak selalu mudah tercium.

Penatalaksanaan

Prinsip pengobatan KAD adalah sebagai berikut :
  • Penggantian cairan dan garam yang hilang.
  • Menekan lipolisis pada sel lemak dan glukoneogenesis pada sel hati dengan pemberian insulin.
  • Mengatasi stres sebagai pencetus KAD.
  • Mengembalikan keadaan fisiologis normal dan menyadari pentingnya pemantauan serta penyesuaian 


Pengobatan.

Dokter harus mempunyai kemauan kuat untuk melakukan evaluasi ketat terutama di awal pengobatan KAD sampai keadaan stabil. Pengobatan KAD tidak terlalu rumit. Ada 6 hal yang harus diberikan yaitu cairan, insulin, garam,  kalium, dan glukosa, serta asuhan keperawatan

Cairan

Dehidrasi dan hiperosmolaritas diatasi secepatnya dengan cairan garam fifiologis. Pilihan berkisar antara NaCl 0,9% atau NaCl 0,45% tergantung dari ada tidaknya hipotensi dan tinggi rendahnya kadar natrium. Pada umumnya diperlukan 1-2 liter dalam jam pertama. Bila kdar glukosa <200 mg% maka perlu diberikan larutan mengandung glukosa ( dektrosa 5 atau 10% ). Pedoman untuk menilai hidrasi adalah turgor jaringan, tekanan darah, keluaran urin, dan pemantauan keseimbangan cairan.

Insulin

Insulin baru diberikan pada jam kedua. Pemberian insulin dosis rendah terus menerus intravena dianjurkan karena pengontrolan dosis insulin menjadi lebih rendah, penurunan kadar glukosa lebih halus, efek insulin cepat menghilang, masuknya kalium ke intrasel lebih lambat, dan komplikasi hipoglikemaia dan hipokalemia lebih jarang.

Kalium

Pada awal KAD biasanya kadar ion “K” serum meningkat. Pemberian cairan dan insulin segera mengatasi keadaan hiperkalemia. Perlu diperhatikan terjadinya hipokalemia yang fatal selama pengobatan KAD. Untuk mengantisipasi masuknya ion “K” ke dalam sel serta mempertahankan kadar K serum dalam batas normal, perlu diberikan kalium. Pada pasien tanpa kelainan ginjal serta tidak ditemukan gelombang T yang lancip pada gambaran EKG, pemberian kalium segera dimulai setalah jumlah urine cukup adekuat.

Glukosa

Setelah rehidrasi awal dalam 2 jam pertama, biasanya kadar glukosa darah akan turun. Selanjutnya dengan pemberian insulin diharapkan terjadinya penurunan kadar glukosa sekitar 60 mg% per jam. Bila kadar glukosa menjadi 200 mg% maka dapat dimulai infus yang mengandung glukosa. Perlu diingat bahwa tujuan terapi KAD bukan untuk menormalkan kadar glukosa tetapi untuk menekan ketogenesis.

Bikarbonat

Saat ini hanya diberikan bila pH<7,1 atau bikarbonat serum <9mEq/l. Walaupun demikian komplikasi asidosis laktat dan hiperkalemia yang mengancam tetap merupakan indikasi pemberian bikarbonat.
Pengobatan umum meliputi antibiotik yang adekuat, oksigen bila PO2<80mgHg, heparin bila ada KID atau bila hiperosmolar berat (>380mOsm/l ).

Pemantauan merupakan bagian terpenting dalam pengobatan KAD mengingat penyesuaian terapi perlu dilakukan selama terapi berlangsung. Untuk itu memerlukan pemeriksaan.
  • Kadar glukosa darah per jam dengan alat glukometer.
  • Elektrolit setiap 6 jam selama 24 jam selanjutnya tergantung keadaan.
  • Analisis gas darah, bila pH < 7 waktu masuk, periksa setiap 6 jam sampai pH > 7,1 selanjutnya setiap hari sampai stabil.
  • Tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, dan temperatur setiap jam.
  • Keadaan hidrasi, keseimbangan cairan.
  • Kemungkinan KID.
Agar pemantauan lebih efektif dapat digunakan lembar evaluasi penatalaksanaan ketoasidosis yang baku. Baca juga : Koma Hipoglikemia dan Penyebabnya.